Airffic InstituteAERIAL PHYSICAL AI

Aerial Physical AI Institute

Sensor: cara drone melihat dunia

Tidak ada hewan yang hanya punya satu indra. Drone juga menggabungkan beberapa "mata" dengan kelebihan berbeda.

Jawaban singkat: Kamera murah dan kaya detail, tetapi kesulitan dalam gelap dan kabut. Radar tahan cuaca, tetapi tidak bisa melihat bentuk halus. LiDAR mengukur jarak dengan tepat, tetapi berat dan mahal. Karena itu, menggabungkan sensor (sensor fusion) adalah cara yang menang.

Diperbarui: · 3 menit bacaCara kami meneliti →

Sir Airffic GoKalau kamu sudah kenal sensornya, kamu bisa langsung tahu apa taruhan tiap perusahaan.

Enam jenis mata dan indra

Kamera menangkap cahaya seperti mata manusia. Murah, ringan, dan bisa melihat warna serta tulisan, jadi paling banyak dipakai.

LiDAR menembakkan denyut laser dan menghitung waktu pantulannya untuk mengukur jarak dengan tepat. Bisa bekerja dalam gelap, tetapi berat dan biayanya jadi tantangan.

Radar memakai gelombang radio. Ia bisa menemukan benda jauh saat hujan, kabut, dan gelap, jadi unggul untuk menghindari tabrakan dan mendeteksi drone.

Kamera termal melihat perbedaan suhu — cocok untuk pencarian malam hari dan menemukan titik panas di atap atau kabel listrik.

IMU (mengukur percepatan dan putaran) dan GNSS (penentuan posisi dengan satelit seperti GPS) adalah indra dalam drone. Hanya jika digabung dengan sensor yang melihat ke luar, keduanya menghasilkan terbang yang tepat.

SensorKelebihanKekuranganKegunaan utama
Kamera (cahaya tampak)Murah, ringan, kaya detailGelap, kabut, silauPengenalan, SLAM, inspeksi
Kamera stereo / kedalamanJarak dekat terukurKurang akurat untuk jarak jauhMenghindari rintangan
LiDARJarak tepat, bisa dalam gelapBerat, mahal, lemah saat hujanSurvei, mendeteksi kabel tipis
Radar mmWaveHujan, kabut, malam, jarak jauhDetail bentuk halusDeteksi dan hindari, deteksi drone
TermalMelihat panas, kuat di malam hariResolusi lebih rendahPencarian & penyelamatan, inspeksi aset
IMU + GNSSGerak dan posisi sendiriGNSS gagal di dalam gedung atau saat digangguKendali sikap terbang, navigasi

Kenapa penggabungan sensor menentukan permainan

Setiap sensor punya kelemahan. Kalau hanya mengandalkan satu, drone jadi "buta" begitu kelemahan itu muncul.

Jadi kamera mengenali benda apa itu, radar memastikan seberapa jauh jaraknya, dan IMU melengkapi bagaimana drone bergerak. Inilah penggabungan sensor (sensor fusion).

Perusahaan yang jago menggabungkan sensor membuat pesawat yang tetap bekerja saat cuaca dan lokasi berubah. Tidak berhenti bekerja adalah fitur paling berharga dari drone komersial.

Langit tanpa GNSS menaikkan nilai sensor

Sinyal GNSS tidak sampai ke bawah jembatan, ke dalam terowongan, atau ke dalam gudang. Di medan perang, gangguan sinyal yang disengaja (jamming) menjadi hal biasa.

Permintaan untuk terbang hanya dengan kamera dan IMU (navigasi visual) naik tajam sejak 2022.

Ini bukan hanya untuk militer. Teknologi yang sama membantu inspeksi di dalam gedung dan pengiriman di kota.

Sir Airffic GoBisakah ia terbang saat sinyal radio hilang? Itulah ujian terbaik apakah otonominya sungguhan.

Apa yang terjadi di pasar sensor

Komponen kamera yang diproduksi massal untuk ponsel pintar membuat mata drone jauh lebih murah.

Radar dan LiDAR makin kecil dan murah berkat produksi besar untuk mobil, sehingga kini muat di drone.

Jadi banyak sensor berkembang sebagai hasil sampingan dari pasar raksasa di luar drone. Spesialis drone harus membedakan diri lewat cara menggabungkan sensor dan perangkat lunaknya, bukan lewat komponennya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Sensor apa yang dipakai drone untuk menghindari rintangan?

Kamera stereo atau kamera kedalaman untuk jarak dekat, radar untuk jarak jauh dan cuaca buruk, dan LiDAR untuk benda tipis seperti kabel. Kebanyakan pesawat menggabungkan beberapa sekaligus.

Apa beda LiDAR dan radar?

LiDAR memakai cahaya laser untuk mengukur jarak dengan halus dan membuat bentuk 3D yang detail. Radar memakai gelombang radio; hasilnya lebih kasar, tetapi bisa menemukan benda jauh saat hujan, kabut, dan gelap.